romantis!

satu lagi pertanyaan yang sampai sekarang belum kutemukan jawaban yang memuaskan. mengapa romantisme selalu diidentikan dengan bunga? ketika ada seseorang yang memberikan setangkai atau seikat bunga kepada pasangannya maka dia dikatakan orang yang romantis. atau seringkali terucap kata-kata:"suami/istri/pacarku bukan orang yang romantis, dia tidak pernah memberi aku bunga", seolaholah sudah terumuskan ROMANTIS=BUNGA. Bisakah anda memberikan penjelasan?

Read Users' Comments (0)

Doraemon

based on true story

one day in a book store
Salesperson: "may I help you?"
A Woman: Yes, I'd like to buy this Doraemon book"
Salesperson: "oh, we have another item of Doraemon. We have pencil, sharpener, coloring book, crayons, etc."
A Woman: "OK. I'll take the pencil and the sharpener too"
Salesperson: "The coloring books are good. How old is your child?"
A Woman: (smiling) in kindergarten....

the salesperson didn't know the truth. that woman bought those doraemon things for herself *><*
Piss ah mba SPG!

Read Users' Comments (0)

hitam/putih

sudah putihkah
dirimu
hingga hitam
kau nyatakan
pada
yang lain

Read Users' Comments (0)

Sombong!

satu hal yang sulit dilakukan selain bepikir positif adalah menghilangkan perasaan tinggi hati dalam diri kita. seringkali kita berpikir bahwa kita lebih unggul dari orang lain. perasaan itu terkadang datang dengan cara yang halus. ketika kita berpikir: "untung saya tidak begini, untung saya tidak begitu", itu adalah salah satu bentuk kesombongan yang sering tidak kita sadari. berhati-hatilah, think positive! hindari kesombongan!

Read Users' Comments (0)

Mengapa Tuhan dihilangkan?

Tadi malem pas nonton tv ga sengaja denger ucapan salah satu pemerannya: "semua adalah kuasa yang di atas". tiba-tiba aku tersadar, tampaknya istilah "yang di atas" sudah semakin menjamur. entah mengapa hal ini menggelitik pikiranku. mengapa istilah tsb lebih populer? mengapa kita tidak menggunakan istilah Tuhan atau Allah atau istilah lainnya yg mengacu pada Tuhan sesuai dg kepercayaan masing-masing? entah kenapa tampaknya orang-orang merasa tabu untuk mengucapkan kata TUHAN. dan mengapa istilah TUHAN harus diidentikan dengan istilah "yang di atas"? bukankah Tuhan ada dimana-mana dan "yang di atas" itu belum tentu Tuhan? bagaimana kalau disaat mengucapkan kata tsb ada seseorang yang kebetulan posisinya ada di atas kita? hal tersebut akan menjadi rancu. jadi, mengapa kita tidak mulai membiasakan diri menggunakan istilah TUHAN? mulailah dari sekarang dan mulai dari diri sendiri.

Read Users' Comments (0)